Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code

Refleksi 21 Tahun Tragedi, Menjemput Hikmah di Balik Takdir

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Sahabat fillah.

Hari ini, Jumat 26 Desember 2025, kita berdiri di ambang dua perasaan. Di satu sisi, kita bersujud syukur atas nikmat umur di hari Sayyidul Ayyam. Di sisi lain, hati kita bergetar mengenang kembali 21 tahun silam, saat bumi Serambi Mekkah diguncang dan disapu gelombang raksasa yang mengubah sejarah kita selamanya.



Namun, saat kita menundukkan kepala mendoakan para syuhada tsunami, ada alarm lain yang sedang berbunyi nyaring di tanah Sumatera kita tercinta. Sepanjang tahun 2025 ini, kita menyaksikan rangkaian bencana yang seolah tak kunjung putus: banjir bandang di pegunungan, tanah longsor yang menimbun pemukiman, hingga hilangnya mata air di berbagai pelosok desa.

Dua puluh satu tahun lalu, Tsunami adalah murni kekuasaan Allah (takdir kauniyah) yang tak terelakkan. Namun, banjir dan longsor yang melanda Sumatera sepanjang tahun ini menuntut kita untuk jujur pada diri sendiri. Apakah ini murni ujian, ataukah teguran atas tangan-tangan manusia yang rakus?

Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur'an: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: 41)

Sangat menyedihkan melihat maraknya pembalakan liar (illegal logging) yang masih terjadi di hutan-hutan Sumatera hingga detik ini. Pohon-pohon yang seharusnya menjadi "pasak" bumi dan penyerap air dicuri demi keuntungan sesaat.

Dalam Islam, menjaga alam bukan sekadar isu lingkungan, melainkan amanah kepemimpinan (Khilafah). Menebang pohon secara serampangan tanpa tanggung jawab adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah Allah. Akibat pohon yang hilang, ribuan orang kehilangan rumah karena banjir. Pelaku pembalakan liar bukan hanya merusak alam, tapi juga sedang menumpuk dosa jariyah atas penderitaan setiap korban bencana yang terdampak.

Di hari Jumat yang berkah ini, mari kita ubah duka menjadi aksi nyata. Refleksi 21 tahun tsunami dan bencana ekologis tahun ini seharusnya melahirkan kesadaran baru:

  1.  Tobat Ekologis: Mari memohon ampun atas kelalaian kita menjaga bumi. Berhenti mendukung produk-produk yang merusak hutan.
  2. Menanam Sebagai Sedekah Jariyah: Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa pun muslim yang menanam pohon, lalu buahnya atau manfaatnya dirasakan makhluk lain, maka itu bernilai sedekah. Mari jadikan Jumat ini awal untuk menanam, minimal di pekarangan sendiri.
  3. Suarakan Kebenaran: Jangan diam melihat kerusakan. Mendukung gerakan pelestarian hutan di Sumatera adalah bagian dari Amar Ma'ruf Nahi Munkar.

Sambil kita memutar tasbih, mari selipkan doa khusus untuk tanah Sumatera. Semoga Allah menghentikan tangan-tangan serakah yang merusak hutan kita, dan semoga Allah menjaga saudara-saudara kita dari bencana susulan. Terlebih adanya wacana untuk membuka lahan perkebunan sawit dan tebu di Papua. Kita tidak ingin mewariskan air mata dan tanah yang gundul kepada anak cucu kita. Mari jaga hutan Sumatera, khususnya hutan Papua, sebagaimana kita ingin dijaga oleh Allah dari segala mara bahaya.

Jumat Mubarak. Mari rawat iman, mari jaga alam.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Reactions

Posting Komentar

0 Komentar